Kementerian PPN/Bappenas menetapkan target penyelesaian peta jalan bioekonomi pada Desember 2028. Fokus pengembangan ini adalah untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah sumber daya hayati Indonesia serta menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Leonardo Adypurnama, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Air, dan Lingkungan Hidup Bappenas, menyatakan bahwa pengembangan bioekonomi akan dilakukan melalui biosolusi dengan memanfaatkan kekayaan hayati dan teknologi. Hal ini bertujuan mengoptimalkan sumber daya yang ada tanpa perlu memperluas lahan.
Leonardo juga menekankan bahwa sektor pangan dan pakan sangat berpotensi dalam pengembangan biosolusi, yang diharapkan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah dari lahan yang digunakan. Selain itu, biosolusi juga mendukung transisi energi lewat pengembangan biofuel.
Di tempat yang sama, Dadang Jainal Mutaqin, Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas, menyebutkan bahwa penyusunan peta jalan bioekonomi akan mencakup pemetaan produk prioritas dan kebijakan pengembangannya. Terdapat lima kelompok produk prioritas, yaitu pangan, energi, kesehatan, kosmetik, dan biomaterial.
Sektor pangan akan didorong melalui penggunaan bio pupuk dan biopestisida, sedangkan untuk sektor energi, fokusnya adalah pengembangan biomassa dan bahan bakar nabati. Penentuan prioritas ini diperlukan agar pengembangan bioekonomi lebih terarah dan hasil riset dapat masuk ke pasar.
Salah satu pihak yang diharapkan terlibat adalah Danantara, agar hasil penelitian dapat diwujudkan menjadi produk komersial. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan swasta sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
Pemerintah juga berharap perusahaan biosolusi global Novonesis berinvestasi di Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah produk melalui proses pengolahan di dalam negeri. Harapannya, Novonesis dapat memanfaatkan sumber daya hayati domestik.
Country Manager Novonesis Indonesia, Ang Yonny Setiadi, menyatakan bahwa laporan tersebut adalah awal dari kolaborasi untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia. Pengembangan tersebut dapat membuka peluang pemanfaatan produk samping dalam pakan ternak dan produksi etanol.
Dadang menambahkan bahwa bioekonomi adalah bagian dari upaya mencapai pembangunan berkelanjutan melalui penggunaan sumber daya alam hayati secara optimal. Biosolusi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumber daya.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa ada potensi peningkatan PDB hingga tiga kali lipat jika Indonesia berhasil mengembangkan biosolusi. Hal ini menunjukkan pentingnya pengembangan biosolusi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.