Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan enam inisiatif utama sebagai bentuk apresiasi dan pengembangan lingkungan pesantren dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
Keenam program ini bertujuan memajukan kesejahteraan, pendidikan, dan perlindungan para santri di wilayah tersebut. Program-program ini diperkenalkan dalam acara peringatan HSN tingkat Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Jalan Pancasila, Kota Tegal.
Menurut Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, keenam program tersebut merupakan bagian dari Program Pesantren Obah, sebuah inisiatif besar yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas serta kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren.
Program ini diharapkan dapat memberikan pemahaman agama yang kuat kepada para santri, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa Jawa Tengah memiliki lebih dari 5.451 pondok pesantren dengan sekitar 555 ribu santri. Angka ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki pesantren di daerah itu.
Berdasarkan data yang dihimpun bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU, potensi ini perlu dijaga dan dikembangkan melalui kebijakan yang tepat sasaran.
Enam program yang diinisiasi meliputi:
- Pemberian insentif kepada 230,8 ribu guru agama yang berlanjut dari program tahun 2025, sebagai bentuk apresiasi terhadap tenaga pengajar keagamaan.
- Pemberian bisyaroh atau tali asih kepada santri penghafal Al-Qur'an, sebagai penghargaan atas dedikasi mereka dalam menjaga dan mengamalkan kalamullah.
- Penyediaan beasiswa pendidikan bagi santri dan pengasuh pesantren untuk melanjutkan studi hingga jenjang S3, baik di dalam maupun luar negeri, di mana pada 2026 tercatat 73 penerima beasiswa dari 942 pendaftar.
- Pemberian beasiswa kepada mahasantri Ma'had Aly dan santri penggerak untuk memperkuat tradisi keilmuan di lingkungan pesantren, dengan 25 Ma'had Aly yang telah menerima beasiswa di Jawa Tengah.
- Penyaluran hibah untuk renovasi pondok pesantren dan masjid, guna memastikan fasilitas yang aman dan nyaman bagi santri.
- Penguatan sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren (P2KP) melalui regulasi dan pembentukan tim koordinasi untuk memastikan penanganan kekerasan berjalan efektif.
Gubernur Luthfi menekankan pentingnya lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi para santri, bebas dari kekerasan, perundungan, dan pelecehan seksual. Santri diimbau untuk tidak ragu melaporkan tindakan kekerasan yang mereka alami atau saksikan, serta pentingnya mengenali hak-hak mereka.
Gubernur juga menyampaikan tiga pesan penting kepada para santri dalam rangka menyambut Indonesia Emas 2045: memperkuat ilmu dengan mendalami kitab kuning serta menguasai sains dan teknologi, menjaga akhlak dan persatuan, serta membangun kemandirian dan kepedulian.
Acara tersebut menggarisbawahi semangat perjuangan santri, yang di masa lalu terwujud dalam perlawanan terhadap penjajahan, kini dilanjutkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. "Selamat Hari Santri Nasional 2026. Mari kita teguhkan tekad: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas 2045," ungkap Luthfi menutup sambutannya.