oleh

Pelajaran Menghitung: 40 Ribu atau 8 Jt?

Muhammad Muhyidin

 

Kapan seseorang bisa berhitung? Tentu sejak ia diajari berhitung. Entah oleh gurunya, ortunya, kakaknya, kakek-neneknya. Sejarah berhitung dimulai dari usia balita.

Lain halnya dengan sejarah berhitung yang satu ini. Sejarah berhitung ini dimulai dari Monas. Yang dihitung jumlah masa.

Alkisah: Pada mulanya dimulai dari angka 411. Ada yang menghitung jumlah massa ratusan ribu. Habib Rizieq mengatakan jumlahnya jutaan. Media menyebut jutaan ummat Islam di Bundaran Patung Kuda hingga Medan Merdeka.

“Perlu diketahui,” begitu kata Ustadz Abdurrahman Djaelani kala itu, “peserta aksi 4 November mencapai 2,3 juta orang!”

Hitungan semakin bertambah, bertambah, dan bertambah. Dari angka ratusan ribu, jutaan, hingga diperoleh angka 7 juta ummat Islam melakukan aksi di Monas. Ini bertepatan dengan angka ajaib 212.

Hitungan mana yang benar?

Nah, di situlah perdebatannya. Saling klaim mengenai jumlah terjadilah. Yang tak suka dengan aksi-aksi model seperti ini menyebut angka, tentu, dengan jumlah yang sedikit. Jatuhnya ratusan ribu saja. Google map diperlukan, perlu juga GPS untuk melihat dan mengukur Monas dan sekitarnya, hitung sana-sini dan dapatlah angka. Ratusan ribu.

“Bagaimana bisa warga Jakarta yang 10juta saja sudah bikin macet sana-sini, kok masih ditambah 7 juta orang yang datang ke Monas tanpa macet sama sekali?”

Aneh. Memang aneh. Tetapi siapa yang aneh? Pihak peserta aksi, dengan tak kalah gagah dan ngototnya, menyebut angka 7 juta itu. Entah bagaimana teori matematika yang dirumuskan sehingga diperoleh angka 7 juta.

Dan….sekarang ini hitung-hitungan yang seperti itu kembali terjadi. Kembali diperdebatkan. Kembali menyebabkan saling sindir, saling nyinyir. Ketika aparat keamaan menyebut angka 40 ribu dalam hitungannya, yang punya aksi reuni menyebut angka yang lebih fantastis dari 7 juta, yakni 8 jt!

Angka mana yang benar? Hitungan mana yang tepat?

Bodoh sekali bertanya seperti itu. Sampai iblis terkencing-kencing di celana atau malaikat lupa menutup pintu, gak bakalan ada hitungan yang tepat. Saling ngotot mempertahankan jumlah hitungan, itulah yang menarik.

Menarik untuk selalu dicermati. Oleh sebab apa dari aparat hingga pegiat media sosial, politisi, ustadz, ulama, rebutan soal jumlah? Begitu pentingkah jumlah?

Penting dong! Di iklim otak minus akal, pendukung calon presiden yang telah dua kali gagal, di tengah ayunan radikalisme yang diperalat politisi, teriakan mulut-mulut yang bernada Islami tapi tak punya akhlak, soal jumlah adalah soal utama.

Jumlah yang banyak akan menakut-nakuti. Akan menarik simpati. Barangkali Tuhan yang Mahakuasa pun akan berpikir ulang melihat jutaan ummat yang tak ingin Jokowi menjadi presiden lagi, sehingga arah takdir dibelokkan Tuhan, menuju Prabowo meninggalkan Jokowi.

Jumlah yang banyak, mendatangkan berkah kan? Tengok saja berkah yang diterima para pedagang kaki lima, penjual warteg atau nasi padang. 8 juta orang itu butuh makan juga kan? Mendadak bangkitlah ekonomi ummat. Dan dengan gagahnya Anies menyatakan kebangkitan itu. Tak luput menyebut hotel-hotel penuh. Tak peduli pihak hotel ternyata tak begitu.

Jumlah yang besar, tentu berefek pula pada para konglomerat-penguasa-donatur kelas kakap yang akan kembali melirik kubu ini. Ketidakpercayaan yang sempat melanda hati, oleh sebab Prabowo telah gagal dua kali, bisa dikembaliin kepercayaannya, agar kardus-kardus kembali terisi.

Tak lupa pula foto-foto dan video dibuatlah. Agar dunia melihatlah. Kedubes Arab Saudi hingga menghina Anshor-lah, menyatakan Ashor sebagai ormas yang menyimpang-lah. Tujuanya Arab Saudi tetap menyokong perjuangan takfiri ini, sehingga dapur tetap mengepul, kardur-kardus dibagi-bagi, sehingga cita-cita khilafah Islamiyah-wahabiyah makin dekat di hati!

Sementara itu….

Buih-buih tetap bangga dapat ikut reuni. Mereka tetap merasa bahwa ini murni gerakan tauhidi. Ini murni panggilan nurani. Digerakkan oleh jiwa untuk menyambut kalam-kalam Ilahi.

****

 

 

Komentar