oleh

Nyanyian Dalam Reuni 212

Jika sebelum reuni alumni 212, masing-masing memiliki tanggapan yang berbeda-beda, yakni apakah reuni alumni 212 murni silaturrahmi bersama dalam spirit seperti yang dikatakan Rizieq Shihab sebagai kebangkitan Islam dan rakyat Indonesia, atau merupakan gerakan politik berbaju Islam, maka semua menjadi jelas berdasarkan “penampakan” yang berlangsung di dalam acara reuni ini.

Para elit parpol pendukung Prabowo-Anis–seperti Amin Rais, Hidayat Nur Wahid, Fazli Zon, dan Fahri Hamzah–tampak hadir. Sementara tak satu pun elit parpol dari Partai Demokrat yang hadir. Awas! Jangan bayangkan kehadiran elit parpol pendukung Jokowi-Ma’ruf, tak akan hadir tentunya.

Dari sisi ini, kehadiran elit-elit parpol pendukung Prabowo-Sandi, melengkapkan kepanitiaan reuni yang memang berasal pula dari kubu yang sama. Jadi reuni alumni 212 tak bermuatan politik? Tergantung. Tergantung kamu melihatnya dari arah mana, dan kamu (pihak) siapa! Bisa saja para elit tersebut akan berdalih bahwa kehadiran mereka murni ikut silaturrahmi, semacamĀ ikut mangayubagyo gitu-gitulah. Tak ada agenda politik di balik reuni.

Tapi lidah politisi adalah lidah yang memang begitu itu. Meskipun jelas-jelas salah macam Fahri Hamzah dalam kasus hoax Ratna Sarumpaet, tetap saja memiliki jurus berkelit sembari tetap bisa tertawa-tawa. Menolak adanya agenda politik terselebung di balik acara reuni alumni 212 tertolak sendiri dengan kehadiran para elit parpol pendukung Prabowo-Sandi ini.

Terdengar pula orasi Tengku Zulkarnaen dan Hassan Haikal di antara orator yang lain. Isi orasi keduanya sebelas dua belas. Tengku Zul yang selama ini selalu nyiyir menyerang rejim Jokowi, kali ini kembali menampilkan serangannya terhadap Jokowi. Ia mengkritik pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi, dan tanpa nalar yang sehat ia bandingkan dengan pembangunan yang di lakukan kompeni. Nadanya justru mengunggulkan penjajah sembari menjatuhkan pemerintah.

Hasan Haikal, dengan piawai sengaja melontarkan pertanyaan yang memantik emosi massa, yakni tantangan untuk membakar bendera tauhid. Kurang lebihnya dia berteriak, “Banyak bendera tauhid berkibar, berani bakar?” Dari sisi komunikasi, lontaran pertanyaan ini sangat cerdas untuk mengaktifkan energi emosional massa. Peristiwa pembakaran bendera tauhid yang dilakukan banser jangna sampai dilupakan, sebab ini penting untuk membedakan “mana kubu pembela Islam dan tauhid sejati” dan “kubu yang justru anti kebangkitan Islam” itu.

Dan memang. Bendera tauhid hitam-putih berukuran besar maupun kecil tampak berkibar-kibar. Tak peduli apakah bendera-bendera itu sengaja dikoordinasikan untuk dibawa beramai-ramai, atau sekedar kebetulan bersama, tetapi yang jelas ini menunjukkan fakta bahwa nalar massa tak berubah dan cenderung makin kuat bahwa apa yang mereka lakukan ini adalah gerakan tauhid membela dan membangkitkan Islam di negeri ini.

sementara itu, teriakan-teriakan mendukung Prabowo juga berdengung di antara kerumunan massa. Awas! Jangan berharap ada dengungan suara mendukung Jokowi di sini! Meskpun Hidayat Nur Wahid “membebaskan” massa yang hadir untuk memilih siapa. Hehehe, betapa licik orang yang satu ini: Melontarkan peryataan aksiomatik di tengah massa-nya sendiri. Media biar mencatat ada kesan Hidayat Nur Wahid ini seakan bijak dengan mempersilahkan massa memilih bebas sesuai dengan nuraninya.

Nyanyian lain yang terdengar adalah panitia segaja memutar kembali rekaman khutbah Habib Rizieq Shihab di tahun 2016, dan juga memperdengarkan seruannya tentang perlunya menegakkan syariat Islam di tanah air. Ide “NKRI Bersyariat” kembali didengungkan. Ide yang demikian ini, hanyalah menunjukkan pada satu hal: Hukum Islam di atas konstitusi, dan jalan yang mesti ditempuh untuk mencapai hal ini hanya ada dua cara: Tegakknya khilafah atau perjuangan melalui parlemen untuk mengubah dasar negara.

 

Komentar