oleh

Narasi Melawan Kezaliman

Muhammad Muhyidin

Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, lewat video yang diunggah di akun YouTube Front TV (Kamis, 29/11/2018) memberi seruan dari Arab sana. Menurutya, reuni 212 adalah aksi perlawanan terhadap kezaliman.

Dia menyebut reuni 212 juga momentum kebangkitan umat Islam dan rakyat Indonesia. Bukan sekedar nostalgia para pejuang 212, tapi media konsolidasi umat Islam dan rakyat Indonesia melawan kezaliman.

Super sekali! Lebih super dari perkataan Mario Teguh pada sahabat-sahabat yang super. Si Imam Besar yang tak pulang-pulang ini, sekali lagi, membuat narasi yang jika dicermati dari nalar sehat dan nalar agama hanya mempertontonkan kelucuan belaka. Sendau-gurau dan bikin gelak tawa, kalau tidak mau disebut seperti ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib pada kaum khawarij.

Alkisah, setelah menerima ajakan damai dari kubu Muawiyah, Imam Ali bermaksud mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai delegasi juru damainya, tetapi orang-orang khawarij menolaknya. Mereka beranggapan bahwa Abdullah bin Abbas berasal dari kelompok Ali sendiri. Kemudian mereka mengusulkan agar Ali mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah.

Keputusan tahkim, yakni Ali diturunkan dari jabatannya sebagai khalifah oleh utusannya dan mengangkat Muawiyah menjadi khalifah pengganti Ali sangat mengecewakan kaum khawarij sehingga mereka membelot dan mengatakan,”mengapa kalian berhukum kepada manusia. Tidak ada hukum lain selain hukum yang ada disisi Allah”.

Imam Ali menjawab, “itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan keliru”.

Persis. Term “Melawan kezaliman” adalah ungkapan yang benar. Agama apa pun, apalagi Islam, menyeru kepada para pemeluknya untuk melawan kezaliman. Malah, tanpa dibumbui dengan agama, akal sehat mendorong manusia untuk melawan kezaliman.

Kalau Khawarij yang lucu dan berisik di awal-awal Islam berlindung di balik pernyataan Hukum Allah demi aksi-aksi terornya, lantas melawan kezaliman yang diserukan Rizieq ini kezaliman siapa? Pihak mana? Ada batang hidung-nya kah??

Tak mungkin seruan melawan kezaliman ditujukan pada perlawanan terhadap kucing atau babi kan?

Yang melakukan kezaliman, sehingga harus dilawan, itu siapa?

Baiklah. Mari kita ambil bahwa para koruptor, penjilat hukum, para hakim dan jaksa yang mempermainkan hukum dan keadilan, perampok, pemerkosa, tukang zina, mencuri, membunuh, memjambret, memalak, memfitnah, menuduh tanpa bukti, menyebarkan berita bohong, adalah para pihak yang harus dilawan. Pihak-pihak yang demikian itu adalah pihak-pihak kezaliman.

Masalahnya adalah, apakah seruan melawan kezaliman dari Rizeq Shihab itu ditujukan untuk melawan mereka??

Jika yang dimaksud melawan kezaliman adalah benar seperti itu, maka seruan itu tertuju pada siapa pun. Contoh melawan koruptor, faktanya yang korupsi itu juga datang dari para politisi-politisi pendukung aksi 212 sendiri. Ada koruptor di PKS, PAN, Gerindra, sebagaimana ada koruptor di PDIP atau Golkar.

Atau, melawan kezaliman itu berarti pula melawan para penyebar fitnah, tukang bohong, berbicara tanpa data dan malah berisi hoax belaka—seperti kasus oplas Ratna Sarumpaet—maka lagi-lagi, selama ini yang hobi nyebarin berita bohong, fitnah terhadap Jokowi bahwa Jokowi antek asing-aseng keturunan PKI—kan dari kelompok Rizieq atau alumni 212 sendiri??

Akan menjadi lebih jelas lagi jika melihat rekam jejak Rizieq Shihab dan FPI-nya, bahwa sesungguhnya seruan “melawan kezaliman” tak lain dan tak bukan akan mengarah pada perlawanan terhadap Jokowi. Ini berarti, Jokowi zalim. Rejim Jokowi adalah rejim yang zalim. Karena zalim, Jokowi harus dilawan. Dan karena zalim, Jokowi harus tumbang?

Bukankah arahnya hendak ke sana?

“O, tidak! Tidak begitu. Jangan kau menuduh. Zalim namanya!” sayup-sayup terdengar suara yang membisiki telingaku.

Lalu kataku, “Kita lihat saja.”

Kezaliman seperti apakah yang hendak dilawan reuni 212 yang bukan sekedar nostalgia, katanya.

Komentar