oleh

Mardani Pertanyakan Parameter Masjid Radikal Menurut BIN

-Utama-8 views

Jakarta – 5news.co.id – Terkait pernyataan Badan Intelejen Negara (BIN) beberapa hari yang lalau bahwa 41 dari 100 masjid kementerian dan lembaga terpapar paham radikal, Juru Bicara Kepala BIN, Wawan Hari Purwanto mengatakan bahwa bukan Masjidnya yang radikal tapi penceramah di masjid tersebut.

“Kalau masjidnya sih nggak ada yang radikal tapi penceramahnya. Kita tidak ingin ada intoleransi, ujaran kebencian, takfiri, mengkafirkan orang lain, semangat radikal yang merongrong ideologi Pancasila,” ujarnya di Jakarta, Selasa (20/11)

Temuan BIN merupakan peringatan dini kepada kita semua, kata Wawan. Karena yang dituju lingkungan pemerintah, padahal di lingkungan pemerintah ini harus steril untuk hal-hal yang berbau radikal.

BIN sudah mengambil langkah agar kondisi itu tidak berlanjut, akunya. BIN sudah berkoordinasi dengan Kemenag, MUI, Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan ormas-ormas terkait.

“Ini semua berkoordinasi dengan kementerian lembaga terkait, dengan Kementerian Agama, MUI, DMI juga ormas. Semua saling berkoordinasi supaya ada perubahan signifikan agar tidak berkelanjutan,” ujarnya.

Senada dengan pernyataan BIN, Wakil Ketua Umum DMI, Syafruddin mengatakan pernyataan BIN tak ditujukan ke masjid, tapi individu yang menyebarkan paham radikal. Karena masjid merupakan tempat suci, tidak mungkinlah masjid  ada nuansa negatifnya.

“Saya rasa apa yang disampaikan oleh aparat terkait ada unsur-unsur kegiatan radikalisme, tidak ditujukan ke masjid, tapi orang-orangnya, atau kelompok-kelompok tertentu,” katanya di Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat.

Menurutnya, pengawasan masjid dan pencegahan dari paham radikal harus dilakukan aparat pemerintah,  DMI tak punya tenaga untuk memonitor masjid  karena anggotanya juga terbatas..

Syafrudin menyarankan, pencegahannya radikalisme di masjid dengan membuat kegiatan positif di masjid. Pemuda masjid punya peran penting menghadirkan kegiatan kreatif di lingkungan masjid, tandasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera tidak sepakat dengan apa yang disampaikan BIN, Mardani bilang pernyataan BIN bisa membuat gaduh bila tak disertai data lengkap.

“BIN ini punya tugas tidak membuat gaduh, rilis-rilis seperti ini bisa membuat gaduh,” kata Mardani.

Mardani berharap BIN bisa terus terang menyebut nama-nama masjid tersebut agar masyarakat tahu. Juga menyebutkan parameter sebuah rumah ibadah terpapar radikalisme, ujar Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu. (mas)

Komentar