oleh

Irma, Mahasiswi Deportan Suriah Terkait ISIS Dari Tulungagung

-Tak Berkategori-7 views

Tulungagung, 5News

IAIN Tulungagung: Irma Bukan Lagi Mahasiswa Kami

Pihak rektorat IAIN Tulungagung menyatakan bahwa Irma Novianingsih –satu dari tujuh WNI deportan Suriah– bukan lagi berstatus mahasiswa IAIN Tulungagung meski identitas yang sama pernah menjalani perkuliahan hingga semester VI.

“Irma sudah tidak aktif sejak awal semester VII pada tahun ajaran 2017 hingga sekarang. Statusnya dengan demikian nonaktif atau DO,” kata Pembantu Rektor III IAIN Tulungagung Abad Badruzzaman di Tulungagung, Senin (28/5).

Baca Juga: Kapolri: Aksi Bom Diduga Dilakukan Oleh JAD Yang Berafiliasi ISIS Di Suriah

Ia membenarkan nama deportan Suriah yang diduga terkait jaringan ISIS, Irma Novianingsih adalah sama persis dengan identitas Irma Novianingsih yang tercatat di buku induk mahasiswa IAIN Tulungagung.

Namun pihak kampus belum berani membuat kesimpulan bahwa dua identitas tersebut adalah milik orang yang sama. Artinya deportan atas nama Irma Novianingsih merupakan WNI asal Tulungagung yang pernah menjalani perkuliahan di IAIN Tulungagung.

“Kami belum akan menyimpulkan bahwa nama tersebut (Irma Novianingsih) pasti mahasiswa IAIN Tulungagung. Namun jika mengacu data dari intel, semua identik dengan database kami,” kata Abad Badruzzaman.

Baca Juga: Kapolda: 334 Orang Teroris Berasal Dari Jateng

Data pendukung dimaksud Abad adalah kesesuaian antara nama, alamat, tempat tanggal lahir hingga riwayat sekolah sebelum kuliah Irma Novianingsih.

Gadis kelahiran 23 November 1994 itu tercatat masuk di IAIN Tulungagung pada 2014 dengan mengambil bidang ilmu (jurusan) Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.

Awal perkuliahan Irma menjalaninya dengan normal. Semester 1 Irma mengambil 11 mata kuliah dengan total 22 SKS. Konsistensi Irma berlanjut hingga semester V.

Namun memasuki semester genap di tahun ketiga ia menjalani perkuliahan, Irma mulai sering membolos.

Dari total 10 mata kuliah yang diambil Irma pada semester VI, hanya tiga mata kuliah yang dijalaninya. Itupun tidak maksimal.

“Semester ganjil (VII) pada 2017 Irma sudah tidak pernah mengikuti perkuliahan lagi hingga sekarang,” kata Abad.

Status Irma Novianingsih saat ini disebut Abad dan Pembantu Rektor I IAIN Tulungagung M Abdul Aziz telah “drop out” (DO) otomatis.

Hal itu dikarenakan Irma tidak pernah melakukan registrasi perkuliahan sejak 2017 hingga sekarang.

Pada Juni 2018, Irma genap dua tahun nonaktif. “Mahasiswa yang dua semester berturut tidak melakukan her registrasi tanpa keterangan, maka secara sistem dia dinyatakan DO,” kata Aziz.

Baca Juga: Menkumham: Pemerintah Akan Susun Perpres Tindak Pidana Terorisme

Irma Novianingsih kini masih ditahan di ruang karantina Rutan Bambu Apus, Jakarta Timur.

Anak bungsu dari dua bersaudara asal Desa Dukuh, Kecamatan Gondang itu berada dalam pengawasan dan pemeriksaan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) setelah dideportasi dari Suriah menggunakan pesawat Turkish Airline TK 056 pada Jumat (25/5).

Irma dideportasi bersama tujuh WNI lain yang diduga bergabung dengan jaringan ISIS di Suriah.

Namun untuk memastikan status dan keterkaitan Irma dan tujuh WNI lain itu dengan jaringan ISIS, Densus 88 Antiteror dan BNPT sampai saat ini masih intensif melakukan pendalaman.

Orang Tua Irma Mengaku Kaget Dan Tertekan

Seorang mahasiswi IAIN Tulungagung, Jawa Timur dilaporkan telah dideportasi dari negara Suriah menggunakan pesawat Turkish Airlines TK-056, kembali ke Indonesia bersama tujuh WNI lain dari berbagai daerah karena diduga terlibat jaringan internasional ISIS/FTF.

Kapolres Tulungagung AKBP Rofik Sukendar, Minggu (27/5), mengkonfirmasi akurasi informasi yang beredar di media sosial tersebut.

“Iya memang betul. Tadi kami sudah cek ke satuan atas. Dan saat ini yang bersangkutan posisi masih di Jakarta dan masih dimintai keterangan oleh tim Densus 88 Anti-teror,” kata Kapolres Rofik Sukendar di Tulungagung, Minggu (27/5).

Data yang beredar, mahasiswi dimaksud bernama Irma Novianingsih (24).

Irma ini merupakan bungsu dua bersaudara dari pasangan Riyadi (47) dan Mujiatin (50), warga Desa Dukuh, Kecamatan Gondang.

Irma dideportasi bersama tujuh WNI lain yang juga disinyalir terlibat jaringan ISIS di Suriah.

Baca Juga: Mendikbud Ancam Tutup Sekolah Yang Ajarkan Radikalisme Dan Kekerasan

Mereka masing-masing adalah Fitri Luthfiana (43), Nayla Kanimah Abdullah (3), Humairoh Humairoh (12), Hamzah Abdullah (9), Ainun Jariyah (21), Wasiatun Nisa Damad (33), dan Qurrota Ayun Muhdi (23).

Irma dan tujuh WNI yang sebagian diyakini sekeluarga ini kini menjalani pemeriksaan intensif tim Densus 88 Anti-teror di Rutan Bambu Apus, Jakarta Timur.

“Sudah barang tentu kami dari satuan wilayah akan memonitor terus dan bekerjasama dengan satuan atas agar bisa terus mengawasi, memantau dan menginformasikan kepada masyarakat bahwa situasi terkait adanya warga Tulungagung yang dideportasi, masih dalam kondisi terkendali,” kata Rofik Sukendar memastikan.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak panik ataupun resah.

Namun Kapolres juga mengingatkan agar warga tetap waspada dan melaporkan ke aparat kepolisian jika mengetahui ada orang/sesuatu yang dianggap mencurigakan.

“Jangan bertindak sendiri. Tetap berkoordinasi, percayakan keamanan kepada kami,” ujarnya.

Baca Juga: Pasukan Khusus TNI Turun Gelanggang Basmi Teroris

Kabar keterlibatan mahasiswi Tulungagung dalam gerakan ISIS dan sempat berhijrah ke Suriah tersebut sempat dikonfirmasikan ke pihak Rektorat IAIN Tulungagung.

“Saudari Irma Novianingsih ini memang pernah kuliah di sini. Di IAIN Tulungagung. Namun menurut catatan akademik, yang bersangkutan sudah setahun ini tidak aktif tanpa memberi keterangan,” kata Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Tulungagung M. Abdul Aziz.

Irma disebut Aziz sudah tidak aktif dalam kegiatan perkuliahan lagi sejak semester 6, dan setelah itu dinyatakan menghilang tanpa keterangan.

Sayang, bapak dan ibu korban enggan dimintai keterangan.

Kendati menerima kedatangan para wartawan, Riyadi dan Mujiatin enggan diwawancarai secara terbuka.

“Saya juga sudah mendengar kabar tersebut,” kata Riyadi.

Menurut dia, pasca munculnya kabar tersebut beberapa kali ada aparat yang menyambangi kediamannya.

Bahkan sebelum kedatangan beberapa awak media, ada personel dari Polres Tulungagung yang berkunjung.

Sedangkan sehari sebelumnya juga ada dari Koramil dan Polsek Gondang.

“Maaf, selebihnya silakan ditanyakan ke aparat bersangkutan,” katanya.

Riyadi dan Mujiatin mengakui masih tertekan dengan perkembangan yang terjadi.

Baca Juga: Tokoh PSHT Cabang Pati Prihatin Atas Tragedi Mako Brimob Depok

Wajah keduanya datar, tatapan terkadang kosong.

“Masih kaget dan tidak percaya karena tiba-tiba banyak petugas yang datang dan melakukan penggeledahan,” tutur Mujiatin dengan mata sembab.

IAIN Tulungagung Perketat Seleksi Mahasiswa Baru

Rektorat IAIN Tulungagung, Jawa Timur akan memperketat seleksi mahasiswa baru dan meningkatkan pengawasan terhadap seluruh aktivitas mahasiswanya demi mencegah masuknya paham radikalisme ke dalam kampus.

“Ini terlepas bekas mahasiswi kami (Irma Novianingsih) yang barusan dideportasi dari Suriah dan kini menjalani pemeriksaan intensif di Rutan Bambu Apus, Jakarta Timur itu terbukti terkait jaringan ISIS atau tidak. Kami jadikan kejadian ini sebagai `cambuk` untuk perbaikan kedepannya,” kata Pembantu Rektor III IAIN Tulungagung Abad Badruzzaman di Tulungagung, Senin (28/5).

Pihak rektorat langsung menggelar rapat khusus membahas isu tersebut pada Senin siang.

Hasilnya belum dijabarkan secara detail kepada awak media, lantaran konfirmasi disampaikan Abad sesaat sebelum rapat rektorat digelar.

Namun ia membocorkan beberapa poin yang menjadi atensi rektoran dan segera menjadi kebijakan kampus demi mencegah kasus “Irma Novianingsih” terulang.

“Sebentar lagi akan ada PBAK (Pekan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). Dulu namanya opspek. Momentum ini akan kami jadikan sebagai ajang seleksi seketat mungkin demi penanggulangan dan penangkalan paham radikal di internal kampus,” katanya.

Abad menegaskan, apabila selama PBAK maupun setelahnya ditemukan “korinah” (indikasi) mahasiswa yang berafiliasi faham radikal, Islam garis keras dan semacamnya, kampus tidak akan segan menggugurkan status kemahasiswaannya.

“Tentu akan kami cermati betul. Karena ini pertaruhannya terlalu besar,” ujarnya.

Secara spesifik Abad menegaskan bahwa mahasiswi menggunakan jilbab secara wajar.

Mereka tidak akan mengizinkan mahasiswi yang menggunakan jilbab yang model cadar (bercadar).

“Jilbab itu wajib, sedangkan (menggunakan) cadar itu sifatnya sunah. Kami sudah siapkan semua argumentasi dan dasar tuntunan agama untuk mengantisipasi jika nanti ada yang protes dan menganggapnya sebagai pelanggaran HAM,” ujarnya.

Baca Juga: Menkumham: Pemerintah Akan Susun Perpres Tindak Pidana Terorisme

Langkah kedua yang juga segera dilakukan pihak IAIN Tulungagung adalah memberi komando kepada seluruh UKM, agar mereka turut terlibat dalam lingkar studi apapun untuk mengawasi dan melapor jika ada aktivitas maupun gerakan yang mencurigakan mengarah pada ajaran radikal.

“Semua kegiatan di dalam maupun di luar kampus jika ada keterlibatan mahasiswa kami dan mengarah pada gerakan yang bertentangan dengan ajaran Islam “rahmatan lil `alamin”, kami akan tindak dengan tegas,” kata Abad.

Pencegahan sebenarnya sudah dilakukan IAIN Tulungagung sejak beberapa tahun terakhir.

Buletin dari luar kampus yang diindikasi berhaluan Islam radikal dan intoleransi sudah dilarang masuk dan disebar saat menjelang maupun usai shalat jumat.

Baca Juga: Hari Kebangkitan Nasional, Polres Pati Ajak Bersihkan Dunia Digital

Sebagai gantinya, buletin yang diperbolehkan beredar hanya yang diproduksi oleh kampus yang dikelola langsung oleh prodi manajemen dakwah.

Terakhir pencegahan dini dilakukan pihak IAIN Tulungagung saat penerimaan calon mahasiswa baru, baik melalui jalur khusus, jalur prestasi, maupun jalur mandiri dan umum.

“Antisipasi yang bisa dilakukan saat penerimaan mahasiswa baru adalah pada kesempatan her registrasi. Kesempatan itu kami optimalkan untuk mengidentifikasi jika ada calon mahasiswa baru yang sudah atau berpotensi terpapar paham radikal,” ujar Pembantu Rektor I IAIN Tulungagung M Abdul Aziz.(sumber ANTARA/hsn)