Hoax, Korelasi Persepsi dan Respon

0

(Seri Bijak Bermedsos)

Penulis: Umar Husain

Sebuah keajaiban bahwa Tuhan telah menanamkan sebuah sistem pertahanan di dalam tubuh manusia, sistem yang mampu membuatnya menyikapi dan menentukan tindakan sebagai respon atas setiap perubahan yang terjadi di lingkungan tempat manusia itu hidup. Sistem ini juga berfungsi sebagai senjata manusia dalam mempertahankan diri dan kehidupan sosialnya.

Baca juga: Hoax, Cara Kerja dan Pengaruhnya

Secara alami, manusia dan lingkungan sosialnya akan bersepakat untuk bekerja sama dan melakukan upaya-upaya tertentu dalam mengantisipasi bahaya yang mengancam. Menjelang musim hujan, di daerah-daerah rawan banjir, masyarakat daerah itu akan membersihkan saluran air, memperbaiki selokan dsb, sebagai upaya menghindari bahaya banjir.

Manusia menerima informasi, dan menyimpannya di dalam memori, bahwa banjir berbahaya dan menjadi ancaman sosial. Sekumpulan manusia pun segera menyikapi dan bertindak untuk mengantisipasi ancaman tersebut.

Ancaman bahaya adalah persepsi (perception), sementara sikap dan tindakan disebut dengan respon (response). Persepsi bahaya terbentuk melalui informasi yang diterima dan diyakini sebagai ancaman, sementara respon muncul secara alami dalam menyikapi dan bertindak untuk mengantisipasi dan mengatasi ancaman bahaya.

Didalam otak manusia, bagian yang menyimpan memori itu disebut dengan hippocampus. Persepsi yang tercetak di dalam memori hippocampus ini akan berperan dalam menentukan ancaman dan bahaya. Ketika manusia terancam, hippocampus akan mengirim sinyal ke amigdala, amigdala akan mengaktifkan HPA (Hypothalamic Pituitary Adrenal). HPA akan membangkitkan respon stress, dimana manusia secara alami akan mengambil tindakan untuk mengatasinya.

Hoax diproduksi untuk membangun persepsi yang tertanam di memori hippocampus. Walaupun palsu, tapi terus menerus digaungkan,lambat laun informasi akan diterima dan tersimpan dalam memori.

Untuk membangkitkan respon alami masyarakat,dan membuatnya bertindak melawan,yang perlu dilakukan adalah menanamkan persepsi ancaman dan bahaya bagi masyarakat itu. Hoax bermain disini, berita dan informasi palsu sengaja diproduksi dan disebar demi sebuah persepsi.

Baca juga: Sosial Media, Dampak Psikologisnya pada Remaja

Media sosial menjadi pilihan paling efektif dalam membangun persepsi. Isu PKI, skandal, penodaan agama dan berbagai isu negatif disebar untuk ‘menggulung’ seorang tokoh atau kelompok tertentu. Belakangan beberapa konsultan politik asal Inggris menyatakan heran dan merasa aneh atas demo besar-besaran atas mantan Gubernur DKI Jakarta, yang disebabkan oleh sebuah cuplikan video yang sudah diedit, dan diunggah di YouTube.

Media sosial terbukti efektif dalam membangun persepsi. Kemenangan Presiden AS Donald Trump pada tahun 2016 silam menjadi pelajaran berharga. Bisa kita ‘googling’ maraknya hoax yang berseliweran di media sosial Amerika Serikat, beberapa bulan sebelum pemilu yang dimenangkannya itu.

Yang lebih memprihatinkan adalah,para produsen hoax itu melakukannya hanya untuk bisnis. Ya, mereka melakukannya demi uang. Sebut saja Victor, seorang remaja laki-laki berumur 16 tahun dari Veles, sebuah kota kecil di Makedonia. Konon Viktor berhasil meraup uang sebesar 200.000 US Dollar atau sekitar 3 Miliar dari hoax yang diproduksinya untuk Trump. Lagi-lagi faktanya baru terungkap beberapa bulan setelah pemilu usai.

Kita tak ingin hal yang sama terjadi di negara kita. Jangan sampai tangan-tangan jahat memainkan perannya dan mengaduk-aduk kerukunan dan persatuan yang ada di sini. Akan sangat menyakitkan jika kita mendapati fakta yang jauh dari kenyataan, akibat hoax, sementara negeri ini sudah kacau balau dan dipenuhi kebencian dan permusuhan.

So, be smart, be wise and keep saying no to hoax and hate speech….