oleh

Hoax dan Bayangan Ketakutan

-Tak Berkategori-0 views

 

Hoax dan Bayangan Ketakutan

(Seri Bijak Bermedsos)

Penulis: Umar Husain

Pernah nonton film horor? Atau berada satu ruangan seorang diri bersama sebuah jenazah? Gimana rasanya? Takut ?  Serem? Meriding ? Itu reaksi alami manusia ketika berada menghadapi hal  yang menakutkan. Meskipun  ketakutan itu muncul dari sebuah film horor,  yang akal sehat kita tau persis bahwa film itu tidak nyata. Akal sehat akan terus mengatakan bahwa film horor itu tidak nyata. Film itu settingan semua, tapi tetep aja kita jerit-jerit saat Valak muncul tiba-tiba di film The Conjuring.

Baca juga: Hoax Membajak Akal Sehat

Seorang diri bersama sebuah jenazah dalam sebuah ruangan juga sama, berbagai macam bayangan menakutkan tiba-tiba memenuhi otak kita. Kalau dia hidup lagi gimana? Kalau tiba-tiba ngomong? Padahal akal kita mengatakan bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bayangan ketakutan ternyata mampu mengalahkan akal sehat.

Disaat ketakutan badan kita dipersiapkan untuk melakukan aksi. Lari, diam terpaku, atau melawan, bahasa kerennya Flight, Freeze or Fight. Hubungannya dengan hoax apa? Hoax itu sesuatu yang di setting, buatan, imitasi, palsu dsb, tidak nyata. Tapi digembar gemborkan setiap saat hingga seolah-olah benar dan nyata. Hebatnya otak kita terkecoh dan tanpa sadar kita menjadi waspada dan mempersiapkan aksi untuk mengatasinya.

Baca juga: Hoax, Cara Kerja dan Pengaruhnya

Contoh saja, saat pemilihan kepala desa ada dua calon, yang satu petahana dan masih menjabat, satunya adalah kandidat baru. Demi untuk meraih impiannya menjadi kepala desa menggantikan petahana, kandidat baru melemparkan isu-isu ‘miring’ terhadap lawannya. Yang PKI lah, kacung partai tertentu, dari keluarga non-muslim, antek Cina dsb. Semua isu itu dibuat hanya untuk mencitrakan lawannya dengan buruk.

Bayangan ketakutan akan muncul dan memenuhi otak penduduk desa, mereka akan terbagi menjadi 3 kelompok pemilih. Pertama adalah penduduk desa yang ‘lari’ dari kepala desa yang menjadi korban hoax, dan memilih kandidat baru.  Kedua adalah pemilih kotak kosong, yang dikarenakan hoax ketakutannya membuatnya tidak memilih. Dan yang ketiga adalah penduduk yang memilih kandidat baru dalam rangka ‘melawan’ akibat buruk, yang ‘dibayangkan’ akan mereka derita jika mempertahankan kades lama. Kelihatan kan akibat jahatnya?

Hingga akhirnya, kandidat baru memenangkan pilkades di desa itu. Beberapa saat kemudian barulah kartu dibuka, bahwa semua isu yang disebarkan kades baru itu bersama tim-nya adalah bohong. Di tingkat yang lebih ‘gila’, isu-isu yang disebar itu sebenarnya melekat pada kandidat yang memenangkan pilkades, namun diputar balikkan untuk menjatuhkan lawannya.

Baca juga: Hoax, Korelasi Persepsi dan Respon

Sesal dahulu pendapatan, desa kini dipimpin oleh seorang kades yang mengecoh pemilihnya dengan hoax,dan memenangkan pilkades melaluinya. Sesal kemudian tak berguna, dikarenakan memenangkan pilkades melalui senjata hoax, dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, mungkinkah seorang pemimpin desa akan berlaku jujur?

Sebelum sesal mendera, perlu kiranya kita lebih bijak dalam menerima informasi, cek dan ricek wajib dilakukan sebelum mempercayai sebuah kabar berita. Zaman kita ini katanya zaman milenial, katanya juga dunia maya seolah sudah menjadi nyata, dan medsos menjadi ‘papan pengumuman’ raksasa. Maka bijaklah dalam menyaring setiap info atau berita yang sengaja dipasang di papan pengumuman  itu. Jangan sampai terkecoh kawan…

Komentar