oleh

Gunakan Surat Domisili Palsu, SMAN 1 Pati Coret 12 Calon Siswa

-Berita, Pati-137 views
SKD Palsu

Pati, 5NEWS.CO.ID,- Sebanyak 12 orang calon siswa SMAN 1 Pati, Jawa Tengah, dicoret lantaran menggunakan Surat Keterangan Domisili (SKD) palsu. Surat ini menjadi dokumen syarat untuk menentukan jarak antara tempat domisili siswa dengan sekolah. Sekarang, hal ini menjadi penting terkait sistem zonasi yang baru-baru ini diterapkan.

Baca Juga:

Akibatnya, sejumlah siswa berbuat curang dengan membuat SKD palsu agar dapat diterima di sekolah impiannya, padahal rumahnya berada di luar zona. Di sisi lain, pihak sekolah mengantisipasi kecurangan ini melalui proses verifikasi dengan mengirimkan tim untuk mengecek SKD siswa.

Terdata 112 siswa menggunakan SKD untuk mendaftar di 6 dari total 8 SMA negeri yang ada di Kabupaten Pati. Di SMAN 1 Pati ada 40 siswa yang mendaftar dengan SKD, di SMAN 2 Pati 25 siswa, di SMAN 3 Pati 12 siswa, di SMAN 1 Juwana delapan siswa, di SMAN 1 Kayen enam siswa, dan di SMAN 1 Tayu 21 siswa.

“Sejak awal pendaftaran calon siswa yang mengunakan SKD kita pisahkan,” kata Kepala Sekolah SMAN 1 Pati, Budi Santosa saat dihubungi 5NEWS.CO.ID, Jumat (5/7/2019) siang.

“Contoh, ada siswa yang alamatnya Tambakromo, lulusan SMP Tambakromo. Tapi SKD nya Plangitan. Dilogika saja kan janggal,” lanjut dia.

Budi menjelaskan, saat wawancara calon siswa sudah diberi penegasan akan dicoret jika kemudian terbukti datanya tidak valid. Selain itu, mereka yang mendaftar dengan SKD juga harus menandatangani surat pernyataan bermaterai 6.000.

“Surat pernyataan itu ditandatangani oleh siswa dan orang tuanya,” ujarnya.

Berkas siswa, kata Budi, lalu diterima oleh SMAN 1 Pati. Pihak sekolah langsung melakukan verifikasi dengan mengrimkan tim ke lapangan. Tim tersebut mendatangi alamat yang tercantum dalam berkas. Tim verifikasi menanyakan kepada tetangga, balai desa yang menerbitkan SKD serta pihak yang menempati alamat tersebut.

“Jika sesuai dan datanya valid, tentunya diterima. Tapi jika datanya tidak sesuai, siswa tersebut dicoret dan harus menggunakan kartu keluarga (KK) untuk mendaftar karena SKD-nya tidak valid,” ungkap Kepsek SMAN 1 itu.

Terkait sistem PPDB yang baru-baru ini diterapkan, Budi menilai masyarakat seharusnya berterima kasih. Menurutnya, sistem baru ini lebih transparan sehingga masyarakat dapat mengikuti secara langsung proses pendaftaran sejak awal hingga akhir.(hsn)

Promo Toyota Fara

Komentar