oleh

BATARA: Kedaulatan Pangan Tergantung Kedaulatan Petani

-Tak Berkategori-9 views

Jepara, 5News

Kedaulatan pangan nasional tidak mungkin digapai tanpa kedaulatan petani, selama petani tidak berdaulat dalam menentukan harga hasil panen dan mengolah hasil panen, kedaulatan pangan tidak akan mungkin terwujud. Hal itu disampaikan Ketua Barisan Tani Jepara (BATARA), Iskak Wijaya kepada wartawan, Rabu (23/5), di kediaman beliau di Desa Bulungan, Pakis Aji Jepara.

Dalam obrolan santai, lelaki 47 tahun kelahiran Salatiga yang juga budayawan itu mengungkapkan banyak hal sekaitan dengan pertanian.
Berikut hasil obrolannya:

Sejak kapan Batara terbentuk?
Secara resmi berbadan hukum tahun 2016, namun sejak 2014 perkumpulan tani sudah kita bentuk.

Apa tujuan utama dibentuknya Batara?
Membangun kesadaran bertani, bahwa petani harus menguasai urusan pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Mulai mengolah tanah, bibit, perawatan hingga pengolahan pasca panen. Juga membentuk pola perekonomian, dengan membentuk Koperasi petani untuk membangun kesuksesan bersama.

Kecamatan mana saja yang sudah masuk anggota?
Kecamatan Bangsri, Mayong, Tahunan, Pakis Aji sendiri, Kembang, Bangsri dan Keling.

Bertani apa yang menjadi unggulan Batara?
Rintisan pisang mas Kirana dan singkong Gajah varietas baru.

Dari mana asalnya?
Pisang mas Kirana dari Lumajang, sedangkan singkong Gajah dari Pelabuhan Ratu Sukabumi.

Kenapa memilih singkong dan pisang?
Sebenarnya peluang singkong cukup besar, baik untuk kebutuhan dalam dan luar negri. Singkong dapat dijadikan andalan untuk diolah menjadi makanan pasca panen, diolah menjadi bahan baku tepung dan lain-lain. Dalam uji coba, singkong kami tanam sekitar 7000 pohon/hektar, hasilnya bisa 15 – 20kg/pohon. Menurut data, Masyarakat Singkong Indonesia masih belum bisa memenuhi tuntutan pasar, jadi peluang masih besar. Dalam skala industri, singkong bisa diolah menjadi tepung, mie, roti dan banyak lagi.

Kalau pisang?
Pisang mas Kirana masih jarang yang menanam, padahal harga stabil dan untuk konsumsi ke hotel. Jadi bukan untuk pasar biasa. Hasil panen kemarin, untuk memenuhi pasar Jepara saja mash kurang. Di samping itu bisa diolah menjadi sale, keripik dan untuk obat hepatitis juga bagus.

Berapa hasil panen pisang terakhir?
Panen terakhir 1000 pohon, satu tandan 6 -7 sisir. Satu sisir seharga 10.000 – 13.000.

Berapa hektar lahan yang sudah diolah?
Total 9 hektar; lahan Perusda 5 hektar, 2 hektar di Kali Garang, 1 hektar di kecamatan Balong dan 1 hektar lagi milik bengkok desa Bulungan.

Sebenarnya apa permasalahan petani kita?
Posisi petani kita itu lemah tidak punya kekuatan. Negara seharusnya memiliki tujuan besar yaitu menjadikan petani berdaulat, karena ketahanan pangan tanpa kedaulatan petani itu mustahil.
Petani harus dibekali ilmu pengetahuan pertanian modern, mengenal teknologi pertanian dan yang lebih penting membangun mental petani. Petani harus punya kekuatan menentukan pasar. Karena petani telah menghabiskan waktu dan biaya tapi kenapa harga yang menentukan para tengkulak?

Kalau di Jepara sendiri nasib petani seperti apa?
Di Jepara pengembangan dan pemberdayaan petani masih kurang. Seperti membangun kesadaran bertani, peluang petani menawarkan ke pasar masih jarang dan minimnya pengetahuan mengolah hasil panen menjadi bahan unggulan.

Peran dinas pertanian sendiri sejauh mana?
Secara umum masih belum sinkron, masih sekedar mengawasi distribusi pupuk. Padahal petani butuh pembinaan. Seperti pembibitan di daerah Bangsri masih belum maksimal.

Pesan Anda bagi para petani?
Petani harus punya perencanaan matang. Gagal dalam perencanaan sama saja merencanakan kegagalan. Tapi Kalau rencana bagus maka 50% keberhasilan sudah berhasil diraih. (ma)