oleh

AIMAN Ungkap Dugaan Korban Kerusuhan 22 Mei ‘Dihabisi’ di Tempat Lain

Jakarta, 5NEWS.CO.ID,- Aiman Witjaksono, host dan produser eksekutif program AIMAN di KompasTV mengungkapkan ada dugaan bahwa korban kerusuhan 22 Mei dieksekusi di tempat lain lalu dibawa ke titik kerusuhan. Aiman mengatakan, pihaknya turun ke lapangan dan mencoba menginvestigasi bekas-bekas kerusuhan di sekitar gedung Bawaslu hingga Jalan Petamburan.

“Saya mencermati temuan baru kasus misteri tewasnya 9 orang saat kerusuhan 21-22 Mei lalu. Dari sini, jalan utama untuk mengungkap arah dan tujuan kerusuhan itu diciptakan! Ada tiga hal yang dapat dicermati dari perkembangan ini,” kata Aiman, dalam artikelnya yang berjudul “Dugaan Fakta Baru Kerusuhan 22 Mei: Korban Dieksekusi di Tempat Lain Lalu Didrop di Titik Kerusuhan” di Kompas.com, Senin (24/6/2019).

Aiman mengatakan, ada tiga hal yang perlu dicermati sekaitan dengan kerusuhan itu. Pertama, lokasi kerusuhan. Kedua, korban anak yang tewas. Ketiga, operasi dan provokasi di “medan kerusuhan”. Dia juga menganggap ada dugaan korban tewas dieksekusi di tempat lain lalu “didrop” di tempat kerusuhan.

Dia mengungkapkan, hasil temuan terakhir polisi yang diungkapkan pekan lalu menyebutkan, korban tewas saat kerusuhan 21-22 Mei di sekitar gedung Bawaslu hingga kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, adalah 9 orang. Dari jumlah itu, 8 orang di antaranya tewas akibat peluru tajam, sementara 1 orang akibat benda tumpul. Dari 8 orang yang tewas akibat peluru tajam, 4 orang telah diautopsi.

Kabag Penum Polri Kombes (Pol) Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta, Senin (17/6/2019), mengatakan, polisi juga sudah berhasil mengidentifikasi 5 lokasi tempat ditemukannya korban.

“Secara keseluruhan penemuan berada di Petamburan. Yang empat (korban lain) masih kami dalami di mana TKP-nya,” ungkap Asep.

Menurut dia, ada dua hal yang perlu dicermati dari temuan ini. Pertama, mayoritas korban tewas akibat peluru tajam. Kedua, lokasi mereka tewas berada di kawasan Petamburan. Artinya, kata Aiman, Petamburan merupakan “medan kerusuhan utama”.

Aiman menceritakan, ada 5 bangkai mobil yang dijaga garis polisi karena masih digunakan sebagai bahan penyelidikan. Kawasan ini memang strategis. Kompleks Brimob berseberangan dengan markas Front Pembela Islam (FPI). Selama ini tak pernah terjadi konflik di antara keduanya meski Polri dan ormas FPI kerap bersitegang. Media sosial pun kerap gaduh, terutama terkait masalah Imam Besar FPI Rizieq Shihab yang sempat tersandung masalah hukum.

Kerusuhan di kawasan itu pada 21-22 Mei seolah hendak membenturkan Brimob dan FPI. Sepertinya, aksi bakar di depan Markas Brimob bertujuan memicu amarah aparat. Sementara, diperkirakan buyar massa yang dihalau akan lari menuju perkampungan di sekitar wilayah markas FPI. 

“Ada kecurigaan, kerusuhan sengaja diciptakan di wilayah itu sebagai provokasi. Temuan baru AIMAN Saya mencari fakta-fakta baru di lapangan untuk menguatkan kecurigaan ini. Saya mencari saksi mata yang bisa bercerita tentang malam-malam yang penuh ketegangan saat itu,” tuturnya.

“Saya bertemu dengan dua saksi mata dari kedua belah pihak, warga di sekitar Asrama Brimob dan warga di sekitar Petamburan. Keduanya menolak untuk saya wawancara menggunakan kamera. Dari hasil perbincangan dengan mereka, saya mendapat fakta bahwa pada malam itu hampir semua pintu rumah warga digedor oleh orang-orang tak dikenal. Sambil menggedor pintu, orang-orang itu berteriak, ‘Ayo keluar, kita diserang, … perang… perang…!’,” lanjut dia.

Sementara dari pihak warga di kompleks Brimob Polri, yang juga menolak untuk dia wawancara menggunakan kamera, menyatakan, “Kami menggunakan peluru hampa dan karet. Tidak ada peluru tajam yang kami gunakan untuk menghalau massa agar jangan brutal membakar dan melempari mobil!”

“Saya mendapat informasi dari sebuah sumber, ada dugaan korban dieksekusi di sebuah tempat, lalu jasadnya didrop di titik kerusuhan sekitar Petamburan-Slipi, Jakarta. Tiga korban masih berstatus anak. Yang paling muda berusia 15 dan 16 tahun, masing-masing bernama Harun Rasyid dan Reyhan Fajari,” kata Aiman melanjutkan.

Sulit untuk menafikan kerusuhan di sekitar wilayah Petamburan memang sengaja diciptakan untuk memprovokasi terjadinya benturan antara penghuni Asrama Brimob plus aparat dan warga yang tinggal di sekitar markas FPI. Ada aksi bakar mobil; ada korban tewas; ada seruan serang dan perang!.

Aiman juga mengonfirmasi temuannya kepada polisi. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menolak memberikan keterangan lebih lanjut terkait perkembangan kerusuhan 21-22 Mei.

“Perkembangan penyelidikan terakhir sudah disampaikan melalui konferensi pers,” ujar Iqbal kepada tim AIMAN yang menghubunginya seraya berjanji akan memberi keterangan lanjutan terbaru dalam beberapa hari ke depan.

Aiman kemudian bergegas mendatangi seorang tokoh. Ia adalah mantan Ketua Tim Investigasi Kerusuhan 98 Hermawan Sulistyo yang akrab dipanggil Kiki. Saat temuan ini disampaikan dan meminta tanggapannya, ia mengatakan, dugaan bahwa korban dieksekusi di sebuah tempat lalu didrop di lokasi kerusuhan adalah sangat mungkin. Sebab, menurut dia, dari hasil autopsi didapat, mayoritas korban tewas ditembak dari posisi tiarap (dan dari arah samping).

“Lha… bagaimana mungkin kalau tiarap ada di lokasi kerusuhan. Posisi nembak tiarap kan perlu space kosong. Kalau di lokasi kerusuhan ada ribuan orang, bisa keinjak-injak,” ujar Kiki.

Kerusuhan ini dikondisikan untuk menciptakan kerusuhan yang lebih besar dan ada tujuan akhirnya, kata Kiki. Detail lengkap penjelasan Kiki akan tayang di program AIMAN pada hari ini, Senin (24/6/2019) pukul 20.00 WIB. Apa pun hasil penyelidikan nanti, harus diungkap lengkap oleh polisi. Tak kalah penting adalah penuntasan. Tak mungkin kerusuhan ini ada tanpa dalang! Penuntasan penting agar peristiwa serupa tak lagi terulang, tandas AIMAN.(hsn)

Promo Toyota Fara

Komentar